14.11.12

Insan Cendekia: Kebahagiaan adalah Kebersamaan

Hello again! :)

Nah, pada kesempatan kali ini, mungkin saya mau sedikit berbagi kebahagiaan.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Eric Weiner, seorang jurnalis senior yang telah melakukan riset mengenai kebahagiaan di beberapa negara. Judul bukunya The Geography of Bliss. Uniknya, dari 10 negara yang dia jelajahi, tidak ada dua negara dengan faktor pembuat kebahagiaan yang sama. Setiap negara memiliki ciri masing-masing, memiliki rumus pembuat bahagianya sendiri.

Waktu baca buku ini, saya jadi inget Insan Cendekia. Karena sekolah saya tercinta ini adalah sekolah berasrama, saya dan teman-teman tidak bisa bebas keluar-masuk kampus. Maka, ketika mereka mendefinisikan bahagia sebagai berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan besar di kota-kota, atau memiliki gadget canggih agar tetap exist, kami di asrama memiliki cara sendiri untuk memaknai bahagia. Kami menciptakan Bahagia di Insan Cendekia.

Bahagia, bagi kami adalah ketika menjalani apel pagi bersama. Saling sapa, saling menggoda ketika ada salah satu dari kami yang berulang tahun, sambil sesekali mencomot makanan dari kotak bekal yang baru saja diambil dari kantin karena telat sarapan. Atau ketika musim ujian tiba, semua anak masih konsentrasi belajar. Ngebut. Berkutat dengan buku catatan di tangan, beramai-ramai menghapal rumus, bagai merapal mantra. Lalu berdoa bersama, dan beriringan berjalan menuju kampus tercinta. Bahagia ada ketika mengucapkan salam di depan pintu masuk sekolah. Tersenyum,  kemudian berlarian menuju kelas jam pertama, berlomba mendapatkan tempat terbaik di kelas (biasanya di pojokan, biar bisa nyender hehe)

Bahagia ada di perpustakaan sekolah kami yang luas, nyaman, dan berlimpah koleksi buku. Novel, ensiklopedia, buku-buku sains, buku-buku sejarah, sastra, kamus berbagai bahasa, komputer-komputer siap sedia, meja-meja besar tempat belajar dan berdiskusi, serta sofa-sofa besar yang empuk dan sangat nyaman (untuk ditiduri :p ). Atau di Ruang OSIS, tempat kami berdiskusi santai membicarakan berbagai program kerja, pembuatan proposal, pendanaan acara, konsep acara, dan sebagainya.

Bahagia, bagi kami adalah ketika berada di Masjid. Beristirahat sejenak setelah belajar setengah hari. Sembari mengambil air wudhu, celotehan dan gosip dari masing-masing kelas pun terlontar. Canda dan tawa kembali menggema. Kegiatan Sholat Berjama'ah dan taushiyah harian mengisi jiwa. Yang seru adalah, berlomba-lomba dengan ratusan siswa lainnya untuk lebih dulu sampai di kantin, agar mendapat tempat antrian pertama (soalnya kalau ngantri di awal, biasanya, dapet lauk lebih banyak ;)).. Namun ada juga yang tetap berdiam di masjid, melanjutkan dzikir dan sholat sunnah rawatib. Lalu membaca selembar atau dua lembar AlQur'an, baru kemudian menuju kantin.. (dengan perut lapar hehe)

Bahagia juga ada di sudut-sudut kantin. Saling bertukar sapa ketika mengambil air minum, atau ketika mengantre ambil makan. Walaupun menunya sering tidak sesuai selera, kami menikmatinya bersama. Bilang masakan kantin tidak enak, kurang ini, kurang itu.. Tapi kami tetap mengunyahnya, karena kami tahu tanpa mas-mas dan ibu kantin, tidak akan kami makan tiga kali sehari. Sambil makan, kami berceloteh tentang apapun atau mengamati kelakuan anak laki-laki yang porsi makannya.. (ckck). Kami bahagia, bahkan ketika makan di kantin yang tidak sesuai selera.

Bahagia juga ada di lapangan-lapangan bola kami. Ketika sore hari sepulang sekolah, pertandingan olahraga antar kelas digelar. Bersorak menyemangati kelas masing-masing, tertawa bersama, merasakan menang dan kalah bersama. Namun bukan gelar yang kami cari, melainkan kebersamaan satu kelas dalam berpartisipasi.

Bahagia juga ada di Kopinma, ketika sekolah usai dan kami menikmati jajanan ringan.. Kriuk Sepuluh-Ribu-Tiga menjadi andalan. Patungan ketika membeli, lalu dimakan bersama beramai-ramai. Tapi yang paling membahagiakan disini adalah... traktiran (tetep).

Bahagia, bagi kami adalah ketika bersama-sama duduk di lobby asrama, merubungi televisi 14 inchi yang layarnya bersemut, dan warnanya tidak sempurna. Menonton acara-acara televisi yang kadang aneh (dan kami tertawakan bersama), berceloteh mengomentari, riuh berseru ketika ada adegan yang seru. Inilah kami. Bahagia ketika bersama, walaupun dengan televisi seadanya.

Bahagia ada ketika pulang dari masjid selepas Isya'.. berjalan beriringan, selangkah-demi-selangkah, menikmati bintang.. menikmati semilir angin.. menikmati genggaman erat sahabat.. sambil berbincang, ringan, mengenai dunia, mimpi-mimpi, masa depan..

Begitu banyak bahagia. Apalagi di Insan Cendekia. Walau tanpa gadget, tanpa sarana Televisi, tanpa pusat-pusat perbelanjaan, tanpa gedung-gedung tinggi menjulang..

Karena Bahagia itu ada di dalam diri. Ia kita ciptakan sendiri. Dengan hati yang lapang, dengan senyum tulus ikhlas, Bahagia akan ada dimanapun kita berada.


Ditulis di Bandung,
 dengan penuh rindu pada kampus Insan Cendekia,
yang telah banyak mengajarkan bahwa Bahagia itu Sederhana.. :')

Kembali

Setelah sekian lama tidak membuka blog saya ini, rasanya... bosan dan ingin menggannti suasana, hehe. Selamat menikmati suasana baru :)

Hari ini saya kembali, menulis blog dan berbagi. Semoga selalu konsisten nih. Setidaknya satu tulisan setiap minggu. Bismillah...

Saya ingin kembali berbagi :)

9.10.12

Kembali Menggali Emosi, Mencoba Menata Diri


Halo :)

Lama banget ya gue ga nge-blog?
Padahal lewat tulisan-tulisan ini gue bisa merefleksi diri. Gue bisa melihat diri gue dari sisi yang lain waktu gue membaca kembali tulisan-tulisan gue yang lumayan acak-acakan di blog ini hehe. Tapi apa daya, beberapa kesibukan dan sedikit kemalasan yang terkadang menghampiri, sering menghalangi gue untuk kembali menulis dan berbagi di blog ini.

Alhamdulillah, secara fisik, kabar gue baik-baik aja hehe. Tapi akhir-akhir ini langit Bandung suka berubah-ubah, nih. Mendung, cerah, gerimis. Mulai masuk musim hujan sih ya. Jangan lupa ya teman, bawa payung kemana-mana. Jaga-jaga, mana tau kena hujan di jalan hehe. 
*back to topic* Mungkin yang kurang baik adalah mental gue. Batin gue yang akhir-akhir ini kayaknya jadi sering terombang-ambing. Gue merasa belum menemukan tempat yang tepat buat gue di ITB ini. Hh.. *lelah*

Yah, sudahlah yaa.. Kegalauan gue nggak usah gue tulis panjang lebar disini ya, ntar kalian yang baca juga ikutan galau lagi hehe
Yang mau gue syukuri sekarang adalah, dimanapun gue berada, sungguh, Allah begitu baik mendekatkan gue pada orang-orang yang luar biasa dan selalu sabar menemani dan mengingatkan gue yang masih labil (duh, kayak anak SMA aja ya. Padahal lo udah jadi mahasiswa, yam.. )

Seperti apa yang kak Urfa bilang beberapa waktu yang lalu, lewati saja semua ini dengan senyuman, yam :)
Menjadi emosional tidak semata-mata membuat manusia menjadi hina. Mungkin ini adalah salah satu cara diri kita membangun ketahanan yang lebih kuat di dalam sana. Dengan cara mengatasi yang benar, kegalauan-kegalauan itu akan terusir dengan sendirinya, kok. Bertahanlah, karena jalan menuju puncak selalu menanjak.

Dan tadi siang, seorang temen kembali mengingatkan, bahwa semua orang di tempat ini, di dunia ini .. punya masalah masing-masing, kok. Kita disini sama-sama Mahasiswa Baru, sama-sama banyak tugas, sama-sama mau UTS. Tapi mereka masih bisa ketawa-ketawa kok, bercanda sama temen-temennya. Dan efek senyuman itu luar biasa loh, yam..

Dan jika perlu menangis, menangislah..
Jika perlu mengadu, kembalilah .. 
Pada-Nya yang Maha Membolak-balik Hati
Mintalah pada-Nya agar diri
Sanggup kembali berdiri ketika terjatuh


Mungkin gue perlu mencari waktu dan tempat yang tepat untuk merenung, menyendiri, dan kembali meluruskan niat dan membersihkan hati ...


Bandung,  9 Oktober 2012
19:46 WIB
di kamar kosan, 
berdua sama Shella di malam Rabu ;)

7.7.12

Perjuangan Ini Belum Berakhir !!



Ini minggu kelima setelah wisuda Gycentium. Lumayan lama juga ya. Tapi hidup kita harus tetap berjalan bukan? Sesakit apapun, sesusah apapun jalan kita. Kita hanya bisa berhenti berjuang ketika nyawa sudah tidak dikandung badan, bukan?

Lima minggu ini bener-bener penuh perjuangan banget. Yang udah keterima SNMPTN Undangan, mungkin udah bisa berlega hati. Tapi buat temen-temen yang juga ikut SNMPTN Tulis, pasti was-was, deg-degan, pusing, mual menunggu hasil SNMPTN Tulis, yang dijadwalkan diumumkan tanggal 7 Juli 2012 pukul 19.00 di website resmi SNMPTN. Begitu pula yang gue rasakan. Nggak sampe mual, sih. Tapi yaa was-was juga. Pilihan pertama dan kedua gue buat SNMPTN ada di kampus yang sama. ITB. Dua-duanya tenar, lagi -_- SAPPK, sama FTSL. Setiap orang yang nanya gue daftar apa, pasti langsung berjengit pas tau gue daftar ITB dua-duanya. Dan gue cuma bisa nyengir kuda. Ikut prihatin *halah. Tapi alhamdulillah, ternyata gue diterima di SAPPK ITB :)

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) -  Institut Teknologi Bandung

Bismillah, semoga kedepannya gue bisa menjalani kehidupan gue di ITB, di Bandung dengan baik :)

Dan buat teman-teman gue tersayaaang, yang belum diterima di SNMPTN Tulis, yakinlah, masih banyak jalan lain, pintu-pintu lain, kereta-kereta lain yang akan lewat. Kalian pasti bisa naik ke salah satu-salah dua-salah tiga kereta-kereta itu, kawan 8) Yang paling penting adalah, di jalan manapun kalian berada, TETAP SEMANGAT! Tetap berusaha MELAKUKAN YANG TERBAIK yang bisa kalian lakukan. Apa yang pak Erwin selalu bilang? Usaha yang baik yang diiringi dengan niat yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Mungkin Allah melihat talenta kita tidak tepat jika kita berada di tempat yang kita inginkan. Bukankah Allah memberi apa yang kita butuhkan? Maka bersabarlah kawan. Bersabar yang aktif. Aktif mencari informasi pendaftaran, aktif belajar untuk ujian, aktif berbuat baik dan beribadah kepadaNya. InsyaAllah, aku disini, akan selalu berdo'a untuk kesuksesan kita, kebahagiaan kita. Kita belajar sama-sama di IC tiga tahun, seneng bareng, sedih bareng. Dan kita pasti bisa sukses bareng!! :)


2.6.12

GRADIATOR : A Never Ending Story about FRIENDSHIP


H+1 Wisuda Gycentium Credas Disorator


Rasanya ada yang hilang. Ada yang kurang ketika aku bangun tidur pagi ini. Aku sudah tidak di asrama. Tidak lagi mendengar teriakan-teriakan khas minggu pagi untuk bersih-bersih asrama. Tidak lagi rusuh membangunkan teman-teman sekamar yang masih asyik bergelung di kasurnya untuk shalat shubuh berjamaah di masjid. Tidak lagi ada saling mendorong untuk mandi duluan, atau bergantian menyapu dan mengepel kamar. Tidak lagi ada liqo minggu pagi bersama Anisah, Hime dan Nikari di rumah bu Dini. Tidak lagi rusuh mengurus kartu izin reguler atau inkus untuk keluar asrama.
Aku tidak lagi dikungkung tembok asrama.

Dan aku merasa sepi.

Sungguh, pertemanan yang telah kita jalin tiga tahun terakhir telah membuatku tidak bisa dengan mudah melepaskan kalian. Ketika kalian tidak lagi disini, di sampingku untuk menyemangatiku ketika aku jatuh, untuk memelukku ketika aku sedih, untuk menyediakan pundak ketika aku butuh tempat untuk bersandar, untuk berbagi canda-tawa denganku, atau bahkan sekedar kriuk sepuluh-ribu-tiga yang kita beli di kopinma.

Aku merindukan kalian. Sungguh. Rindu pada canda tawa kita. Pada kesal, marah, tangis, panik, gembira kita. Pada wajah kalian yang menyimpan sejuta kebaikan. Pada mata kalian yang berkilau dengan cahaya pengharapan dan cita-cita tinggi. Pada senyum penuh kesejukan yang tak lelah kalian tebar. Pada tangan dan kaki kalian yang tidak segan untuk bahu-membahu, membantu dalam kesulitan. Pada kalian yang rusuh, susah diatur, menyebalkan dan senang meledek. Pada saat-saat istimewa kita di depan TV, mengoceh dan mengomentari ini-itu bersama-sama. Pada saat-saat ketika kita belajar bersama-sama ketika musim ujian tiba. Pada acara-acara makan-makan yang selalu menyenangkan, selalu rusuh berebut makan, memasak bersama. Pada obrolan-obrolan dan gosip-gosip tidak penting tentang adik kelas, atau cerita-cerita aneh di kelas masing-masing. Pada gorengan atau mie goreng saung yang kita nikmati bersama.

Sungguh, jika ada kata lain di atas "Terima Kasih", untuk semua yang telah kalian berikan untukku, kata itulah yang akan kupersembahkan untuk kalian.
Jika ada kata lain di atas "Maaf", atas segala kekuranganku, perilaku burukku, dan segala hal dari diriku yang membuat kalian marah, kesal, kecewa, kata itulah yang akan kuucapkan pada kalian.

Setelah ini, kita akan berjalan di jalan masing-masing. Mengejar mimpi masing-masing. Tapi aku berharap, berdoa, semoga ikatan persaudaraan ini, yang telah kita jalin bersama-sama tiga tahun terakhir, tidak akan putus dimakan waktu. Semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk bertemu kembali. Kembali berbagai canda tawa, tangis bahagia. Dan semoga kalian tetap menjadi kalian yang aku kenal tiga tahun ini. Gycentium yang penuh semangat, yang saling memberi semangat, yang suka jalan-jalan, yang cerdas, yang hangat, yang selalu perhatian, yang baik. Aku sungguh berharap kita dapat berkumpul kembali. Dan ketika saat itu datang, yang kudengar dari kalian semoga berita-berita baik tentang kesuksesan kalian, di jalan manapun kalian berada.
sekali lagi, terima kasih untuk segalanya.

Aku senang pernah bisa mengenal kalian :)


GRADIATOR
Never Broken Always Unite !
Cause We're The Best No Matter What !

Catatan Kecil di Pintu Pemberhentian


Jadi, disini kita sekarang. Pada sebuah waktu yang dihitung mundur menuju suatu pemberhentian. Pemberhentian atas tindakan-tindakan massive kita bersama seperti dulu. Jejak-jejak yang akan kita buat nanti mungkin tidak akan sedalam saat kita melewati tanah basah bersama. Ribut-ribut yang akan hadir nanti mungkin tidak akan lebih rusuh dari teriakan yell-yell kita saat ini. Roda yang kita gulingkan mungkin akan menjadi lebih berat karena kita akan kembali menjadi masing-masing.

Di pemberhentian nanti, lagu yang kita nyanyikan mungkin bukan lagi lagu yang penuh semangat seperti yang biasa kita nyanyikan lewat tawa, tangis, dan marah kita seperti dulu. Tapi aku tidak tahu pasti. Yang jelas waktu semakin membawa kita ke pemberhentian itu dengan cara yang sangat halus dan lembut.

Bahkan sebenarnya waktu telah mempermainkan kita dengan cara yang sangat elegan. Sejak awal kita dipertemukan oleh tangan tak kasat mata disini, kita dibiarkannya menikmati setiap detik, setiap saat kebersamaan yang kita sulam bersama. Perlahan, dan dengan gerakan yang tidak disadari, waktu menumbuhkan ukhuwah diantara kita dengan cara yang sangat manis. Kadang awalnya bisa sebuah pertengkaran dan rasa kesal, atau bisa juga kekaguman yang tersimpan dan tidak terungkap. Dengan lembutnya, waktu membuka itu semua dan merajutnya menjadi satu kesatuan. Menjadi sebuah ukhuwah yang dikuatkan dengan doa rabithah setiap pagi dan petang.

Dan tidak ada yang menyadari, betapa sebenarnya permainan ini telah memberi kita lebih banyak hal dari pada yang kita rasakan. Lewat senyum dan tawa kita, aku selalu merasa aku tidak akan pernah bersedih. Lewat obrolan tidak penting kita, aku tahu aku selalu didengarkan, seremeh apa pun hal yang aku bicarakan. Lewat rangkulan kita, aku merasa dimiliki dan dikelilingi oleh orang-orang yang tidak akan berhenti menyayangiku. Lewat curhat dan rangkulan kita, aku merasa waktu akan selamanya damai seperti saat itu. Bahkan, lewat marah dan benci kita –atau lebih sering aku terhadap kalian, tepatnya- aku tetap merasa hangat berada di tengah kalian. Tidak peduli sekeras apa wajah yang aku tampakkan, selalu ada celah dalam kalian yang selalu memaafkan.

Kadang aku berpikir, saat aku marah terhadap kalian, siapakah sebenarnya yang jahat? Ego ku sering berkata bahwa aku benar dan kalian salah. Kalian semestinya begini dan bukan begitu. Tapi hangat yang aku rasakan memaksaku meredam semuanya. Sehingga yang bisa aku lakukan hanya menangis karena merasa sayang dan benci disaat yang bersamaan.

Tapi aku selalu suka cara kalian membuatku tertawa dengan hal-hal tidak penting. Gosip. Artis. Kejadian konyol yang kita alami hari itu. Pengalaman unik waktu SMP. Teman-teman lain. Bahkan adik kelas. Betapa cara kalian memperkenalkan aku pada kebahagiaan yang sederhana begitu menawan.

Aku suka hal-hal menarik di luar IC yang kita lakukan bersama-sama. Study kolaboratif selalu menjadi favorit kita dibanding kegiatan lainnya. Pangandaran, Bandung, Lampung. Tidak peduli dimana tempatnya, kita adalah kita. Rusuh. Susah diatur. Sering membuat guru kesal sekaligus tertawa disaat bersamaan. Dimarahi seangkatan sepertinya sudah biasa. Tapi dengan rasa terbiasa itu kita tidak menjadi masa bodoh dan tak acuh. Kita berusaha bangkit dan memperbaiki diri.

Aku suka cara kalian memberi semangat satu sama lain. Menulis surat, memberi hadiah, atau hanya dengan ‘chemungudh’ kita yang diiringi dengan tawa. Aku senang cara kalian membuatku merasa memiliki keluarga disini. Aku senang cara kalian membuatku merasa nyaman, dan melupakan kerinduanku pada rumah, meski hanya sebentar.

Dan setelah begitu banyak kejadian kita jalani, kita menjadi dewasa dengan cara yang tidak dapat dijelaskan. Pertemuan hampir setiap saat membuat aku mengerti tentang perbedaan pribadi. Interaksi hampir sepanjang hari menumbuhkan perasaan untuk saling mengerti dan berbagi. Perbedaan pendapat mengajarkanku untuk mengalah dan bersabar. Berada bersama kalian, aku menyadari apa saja yang bisa aku lakukan. Berada bersama kalian, aku tahu bahwa aku begitu berarti, karena kalian selalu menangis saat salah satu dari kita pergi lebih dulu. Berada bersama kalian, aku merasa aku adalah orang hebat yang berada diantara orang-orang hebat. Kalian memotivasiku untuk tidak menyerah sampai akhir. Kalian menguatkan ketika aku rapuh. Kalian membangkitkan ketika aku jatuh.

Lihat? Betapa mudahnya kita terbawa dalam permainan waktu ini. Tidak terasa 3 tahun sudah kita lewati bersama-sama. Dengan tawa, tangis, marah, juga sayang. Maka dari itu, saat ini aku merasa sedih membayangkan pemberhentian kita nanti. Aku sedih membayangkan hari terakhir kita memakai seragam putih abu-abu. Aku sedih membayangkan harus mengakhiri segala rutinitas yang biasa kita lakukan bersama. Apel. Shalat berjamaah. Makan di kantin. Mengobrol di kamar sampai larut. Belajar bersama. Menggedor pintu kamar mandi supaya dapat giliran mandi dan tidak telat apel. Bahkan sekedar duduk-duduk di saung sambil menikmati gorengan atau mie instan.

Sebelum ini semua benar-benar terhenti. Sebelum jarak memisahkan kita lebih jauh. Sebelum hati kita mulai mendingin dan kembali menjadi masing-masing. Aku meminta maaf untuk semua salah dan perbuatanku yang tidak menyenangkan. Maaf karena aku belum bisa menjadi seseorang yang dapat membesarkan nama kita, Gycentium Credas Disorator, dengan baik. Maaf karena aku sering egois dan tidak mau mengerti.

Terima kasih atas semua yang telah kalian berikan dalam hidupku. Aku memiliki sebagian masa-masa terbaik dalam hidupku bersama kalian. 
Terima kasih karena mengajarkan aku banyak hal. 
Terima kasih untuk semua perhatian dan kehangatan persahabatan yang kalian berikan. 
Terima kasih untuk semua semangat dan energy positif yang menguatkan aku. 
Terima kasih untuk selalu menyayangiku meski kadang aku menyebalkan. 
Terima kasih karena selalu memaafkan. Terima kasih karena selalu mengerti.

Gycentium, meski kita belum menjadi angkatan yang terbaik,untukku, kalian tidak akan pernah bisa digantikan dengan apa pun. Kita ini Gycentium. Yang rusuh. Yang susah diatur. Tapi membuat banyak kenangan indah yang sulit dilupakan…

Waktu terus berjalan. Dan permainan ini akan semakin mendekati akhir. Pemberhentian sementara kita menunggu. Setelah itu, kita akan kembali bergerak, mendorong roda kehidupan bersama teman-teman baru, kehangatan baru, juga diri kita yang baru.
Semoga kehangatan ukhuwah kita selalu terjaga dalam keridhoan Allah…


“Allahumma innaka ta’lam ‘anna hadzihil qulub… qadijtama’at ‘ala mahabbatik… wal taqat ‘ala tha’atik… wa tawahadat ‘ala da’watik… wa ta’ahadat ‘ala nusyrati syari’atik… fawatsikillahumma rabithathaha… wa ‘adhdhim wuddaha… wah diha subulaha… wamla’ha binurikalladzi la yakhbu… wasyarah suduraha bifaidil imanibik… wa jamilit tawakkuli ‘alaik… wa ahyiha bima;rifatik… wa amitha ‘ala syahadti fi sabilik… innaka ni;mal maula wa ni’man nashir… Allahumma amin…”


ditulis oleh Nisa Karima, untuk video Apreggios.

22.4.12

Saya Rindu



Liburan kali ini, entah kenapa banyak hal yang membuat saya tiba-tiba merindukan beberapa hal yang sebelumnya sempat terlupakan. 
Hal-hal besar maupun kecil, momen-momen sederhana yang menghangatkan hati.


Saya Rindu :')

4.3.12

SNMPTN -dengan segala kegalauannya-

Halo halo :D
akhirnya ngeblog lagi, setelah sekian lama ga dapet akses internet yang cukup memadai buat nge-blog
dab akhirnya hari ini gue membulatkan keputusan mau kuliah dimana dan jurusan apa.

  1. PSIKOLOGI - UNIVERSITAS INDONESIA
  2. SAPPK - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

haha, ternyata pada akhirnya gue milih ITB juga
mau-ga-mau ya, anak IPA sih #lah
tapi bulan ini dan bulan-bulan ke depan bakal ada banyaaaaak banget ujian-ujian yang harus dihadapi.
yang paling deket, US (apa UAMBN dulu?)
UAMBN-UAMBN-UAMBN- -____-" (apa kabar Fiqih Aqidah Qurdis SKI B.Arab? semoga ga NK yaa)

dah- semoga dapet hasil terbaik buat semua ujiannya, buat SNMPTN undangannya, buat Gycentium, buat Insan Cendekia
harus mulai KIASU !
harus serius belajar di kelas
nggak boleh keseringan ngegalau!


4.2.12

[random]

Sungguh, aku hanya perlu melihatmu dari kejauhan dan memastikan kau baik-baik saja disana. Itu sudah cukup. Kurasa, cukup bagiku untuk melihat matamu yang berbicara. Tanpa kata, kau menyampaikannya lebih baik. Aku dapat membacanya dengan tepat . Karena matamu tidak pernah berbohong.